Jumat, Juni 19, 2015

[Novel] Tentang 'Perempuan-perempuan Tersayang'

The ultimate inspiration is the deadline.- Nolan Bushnell
Bukankah kalau kehidupan terasa terlalu tenang, kita harus cari masalah, supaya jadi seru? Eh, bukan ya? :))
Sebenarnya saya mau nyeritain tentang novel terbaru saya, Perempuan-perempuan Tersayang, sejak awal novel ini rilis sekitar akhir Mei. Cuma apa daya, kehidupan mendadak sibuk beneur dengan kerjaan dan hal-hal lain.

Anyway, novel ini sebenarnya PR dari Christian 'Ino' Simamora di tahun 2013. Satu saat dia menelepon saya.

'Mbak, mau nulis naskah dengan setting daerah Indonesia Timur nggak?' katanya.

'MAU!'

Iya, tanpa berpikir panjang, saya langsung mengiyakan dengan semangat, yang terpikir dalam benak adalah mengangkat salah satu tempat di Nusa Tenggara Timur, tempat sebagian hati saya tertinggal (TSAH!).

Saya baru menelan ludah begitu mendengar kelanjutan kalimatnya.

"Deadline-nya satu setengah bulan." lanjutnya.

Nah lho!

Tapi pada akhirnya tetap saya terima saja PR dari Ino. Saya bukan penggemar deadline (memang ada ya yang doyan deadline? :D ), tapi waktu itu saya berpikir, saya butuh tantangan. Bukankah kalau kehidupan terasa terlalu tenang, kita harus cari masalah, supaya jadi seru? Eh, bukan ya? :))



Ino mengusulkan Larantuka, tapi yang ada dalam pikiran saya justru SoE, sebuah kota di Timor Tengah Selatan, yang berjarak sekitar kurang lebih 1 jam perjalanan dari Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur. Kota ini juwarang (saking jarangnya) banget disebut-sebut kalau membicarakan NTT.

Where's SoE? (Sumber peta : http://www.indonesia-tourism.com)


Nah, ini adalah cari masalah berikutnya, karena sejujurnya saya tidak benar-benar kenal dengan kota ini, karena saya cuma pernah bermalam di tempat ini selama 2 hari. PLUS, saya bekerja di pulau Timor sekitar tahun 2007 - 2009, itu pun lebih banyak 'beredar' di Timor Leste, bukan di NTT. Jadi banyak lupanya!

Mungkin memang di masa itu naluri nggolek perkoro saya sedang tinggi; jadi saat menuliskan sinopsis plus storyline, tokoh utamanya adalah Fransinia Maria, seorang perempuan SoE. Sementara saya berlatarbelakang budaya Jawa, lama tinggal di pulau Jawa, tentu saja pola pikir saya berbeda dengan pola pikir orang Timor.

Deadline plus setting plus Fransinia berarti PR riset pra menulis saya banyak. Saya bertekad membuat setting dan tokoh-tokohnya melebur dalam cerita, bukan sekedar tempelan. Riset dimulai dengan menginterviu sahabat-sahabat saya di Timor; mereka sangat membantu mengembalikan kepingan-kepingan ingatan saya tentang NTT.

 Saya tidak berniat langsung menulis, tapi mengkondisikan diri agar saya 'berubah' jadi Fransinia. Saya sempat membuat satu mood board, tempat saya menempelkan seluruh informasi, dari peta lokasi, foto-foto berbagai sudut SoE, kondisi sosial, adat dan lain-lain.

Satu orang yang sangat membantu saya  adalah Sandra Frans, seorang dokter asal SoE yang kini sedang kuliah di Melbourne. Kakak dokter Sandra ini  dengan murah hatinya dia menjawab seluruh pertanyaan-pertanyaan saya; sangat detail. Saking detailnya, saat membaca apa yang dituliskan saya jadi emosional.
It's a good start. Dan saya pun mulai menulis.

Sejujurnya ini novel ter-emosional yang pernah saya tulis. Ya masa pas nulis saya pakai sedih sendiri, sebal sendiri, takut sendiri? Saya seolah-olah menjadi Fransinia.

Berhubung deadline-nya tidak panjang, maka saya pun menertibkan diri, bikin jadwal menulis dua jam per hari. Lagi mood atau nggak, pokoknya nulis! (Karena mood dan nggak ada ide itu cuma excuse dari kemalasan belaka, betul? Haha). Saya pun mematikan tombol kritik diri yang kadang terlalu kuat.

Naskah mulai terbangun bab demi bab. Dialog menggunakan bahasa melayu Kupang, saking tiap harinya saya menulis menggunakan bahasa Melayu Kupang, kadang-kadang dialek tersebut kebawa saat berbicara sehari-hari,

Masa saya pernah bilang ke office boy kantor saya 'Kopi su habis ko? Co tolong beli do..'. OB sampai memandang saya dengan bingung. Ya maas mab! :))

Anyway, naskah beres tepat satu setengah bulan, tapi nggak langsung saya kirim ke Ino. Saya kirim ke beberapa orang untuk mengomentari naskah tersebut. Orang pertama yang saya kirimkan adalah Maya Notodisurdjo, orang yang sangat saya percaya mampu memberikan opini  dengan obyektif (dan pedes, kalau naskah saya memang jelek. Ouch).

Lalu saya meminta tolong Dicky Senda dan Dody Kudji Lede, dua orang penulis ciamik NTT untuk mengomentari naskah, saya ingin menguji apakah naskah saya sudah cukup Timor atau belum. Ada beberapa masukan, terutama soal dialek.

Selesai!

Saya kirimkan pada Ino.

Sebulan kemudian, Bara (Bernard Batubara) menelepon saya, dia bilang dialah editor dari naskah ini. Ini kali pertama saya bekerja sama dengan seorang Bara... yang ternyata teliti melintir dan perfeksionis. Segala bolong di plot ketangkep aja dong! Proses editingnya lumayan lama, karena Bara bolak-balik mengirim ulang naskah saya.

Pokoknya setiap melihat nama Bara di inbox, maka reaksi saya 'HAH? DIBALIKIN LAGIIII? YA AMPUN!'

:)))

Tapi pada akhirnya, ketika saya melihat naskah finalnya, saya bisa tersenyum lebar.

Nah, Perempuan-perempuan Tersayang ini  ceritanya tentang apa sih?

Tentang seorang Fransinia Maria, perempuan SoE yang telah lama tinggal di Jakarta, baru lulus kuliah dan sangat ingin bekerja di perusahaan terkenal di ibu kota. Fransin bermimpi untuk membangun kehidupannya di kota besar; kembali ke SoE tidak pernah masuk dalam daftar cita-citanya. Ia pun telah memiliki pacar di Jakarta.

Namun sayangnya, terjadi masalah keluarga, adik semata wayangnya hamil, ibunya shocked berat, sehingga ia harus pulang dan menetap di SoE, dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan. Konflik-konflik yang muncul seputar kekecewaan Fransin yang merasa mimpinya berantakan, kekesalannya pada adiknya plus shocked culture.

Bagaimana Fransin bisa menyikapi masalah yang dihadapinya? Apa dia bisa belajar mencintai tanah kelahirannya? Bagaimana hubungannya dengan sang adik dan ibu serta kakaknya? Kandaskah kisah cintanya dengan sang pacar di jakarta?

Ya baca saja! :))

Perempuan-perempuan Tersayang bisa didapatkan di toko buku besar atau toko buku online, seperti Republik Fiksi, Buku-plus.com, Bukabuku.com, Kutukutubuku.com, daan lain-lain.



Pengarang : Okke 'Sepatumerah'
Penerbit     : GagasMedia
ISBN           : 979-780-812-2

Sinopsis:

Pernahkah kau mendengar kisah dari Kota SoE, kota kelahiranku?

Ya, tadinya aku pun berpikir sama denganmu, tak ada yang menarik dari kota yang berjarak lebih dari seratus kilometer dari Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur itu.
Maka, aku meninggalkannya.
Dan, di ruas Ibu Kota, aku menemukan cinta.
Menegakkan mimpiku hampir sempurna.

Namun, hidup tak selalu memihak pada mimpi yang sempurna, bukan?
Mau tak mau, aku harus kembali ke SoE.
Aku pulang, meninggalkan cinta dan harapan akan masa depan.

Pernahkah kau mendengar kisah dari Kota SoE, kota kelahiranku?
Tadinya, aku pun berpikir sama denganmu, tak ada yang istimewa darinya.
Namun, ternyata aku lupa akan indahnya barisan bugenvil yang mekar serentak di tepi-tepi jalannya.
Aku lupa sempat kutitipkan cinta malu-malu di sana.

Lalu, maukah kau menelusuri bersamaku kelok jalannya yang berbatu-batu?
Menikmati siur dingin udaranya sambil kita perbincangkan lagi cinta yang sering kau lupa.

Mungkin kau sama denganku, cinta yang sebenarnya justru kau temukan saat kau pikir kau sedang kehilangan.

Jadi, dengarlah kisah dari Tana Timor ini.

—Fransinia




2 komentar:

Nita Sellya mengatakan...

Anjir 1,5 bulan.

*komen lain menyusul, masih terkesima sama 1,5 bulannya*

sepatumerah mengatakan...

Iya, 1.5 bulan, Nit.

*nungguin komen lain*

:))