Setahun Menyusui : Dari Freezer Yang Nggak Penuh Sampai Tidak Rela Menyapih


A newborn baby has only three demands. They are warmth in the arms of its mother, food from her breasts, and security in the knowledge of her presence. Breastfeeding satisfies all three.

Grantly Dick-Read

Yang jelas pemikiran saya bahwa menyusui itu hanya aktivitas memberi makan bagi bayi berubah banget. Nggak, menyusui itu nggak sesederhana itu, kompleks bo!
Okeh. Anak saya baru saja ulang tahun ke-1 beberapa waktu yang lain. Fiuh! Sampai juga bok, setahun. Saya nggak mau bilang nggak berasa, ah! Setahun ini, walau berlalu cepat banget, tapi ups and downs-nya kerasa deh! Pakai banget.

Anak saya sudah setahun, artinya sudah setahun saya full menyusui. Jadi kalau menurut AIMI-ASI, anak saya sudah S2 ASI. Etsaah.


Jadi, apa saja yang terjadi selama setahun menyusui? Banyak. Yang jelas pemikiran saya bahwa menyusui itu hanya aktivitas memberi makan bagi bayi berubah banget. Nggak, menyusui itu nggak sesederhana itu, kompleks bo! Aktivitas ini sangat berpengaruh secara psikologis bagi saya dan bagi putri saya.

Apa saja? Ini dia :


(1) Menyusui itu menyakitkan
Saya memang sangat ingin menyusui anak saya sampai 2 tahun ++, sehingga secara serius saya mengikuti kelas laktasi. Di sana diajarkan mengenai posisi dan pelekatan menyusui yang benar. Posisi menyusui adalah posisi ibu saat mendekap bayi saat menyusui, sementara pelekatan adalah letak mulut bayi pada payudara ibu.

Waktu di kelas, beuh gampang! Saya jagoan.

Begitu praktik langsung setelah anak lahir.... bubar. Saya nggak pernah menggendong bayi merah, jadi posisi saya saat mendekap anak saya awur-awuran, akibatnya pelekatannya pun nggak beres. Seharusnya mulut bayi masuk sampai ke areola, tapi karena awur-awuran itu, yang terhisap hanya puting. Peurih, Jendral!

Dan kejadian tersebut berulang, sehingga pada akhirnya puting saya lecet.

Ya, sekarang bayangkan saja, ada luka di puting --- bagian yang sangat lembut dan sensitif --- kemudian bagian tersebut diisap oleh bayi.

*nangis*

Dan saya memang benar-benar nangis setiap menyusui. Bahkan saat seminggu menyusui, saat masih dilanda baby blues juga, saya menolak menyusui putri saya dan meminta partner untuk membeli sufor.

(2) Tapi hal tersebut tidak berlangsung selamanya, jadi bertahanlah.
Untung saat itu sudah malam ya, sudah jam 3 subuh. Saat partner bersiap untuk pergi mencari sufor entah di mana, akal sehat saya jalan. Lah, kasihan amat dia harus pergi subuh-subuh? Pagi-pagi sajalah. Begitu pikir saya.

Dan ketika hari terang, setelah saya tidur cukup lama, saya mulai merasa sanggup meneruskan menyusui. Perihnya masih sih, saya sampai menendang partner setiap menyusui, saking perihnya. Banyak orang yang menyarankan agar saya mengoleskan ASI sebelum dan sesudah menyusui, supaya iritasinya cepat sembuh. Di saya nggak ngaruh, akhirnya saya menggunakan Medela Purelan Cream. Sejak saat itu, rasa perihnya tertahankan, dan dalam waktu sebulan... eh, udah nggak sakit lagi!

Hail Medela Cream!

(3) Yang jelas, it takes two to breastfeed.
Walau pun yang punya pabrik susunya adalah ibu, tapi yang menyusui bukan hanya ibu! Seriusan. Seorang ibu nggak akan mungkin bisa berhasil terus menyusui kalau tidak ada support dari pasangannya, sebagai orang terdekat.


Saya sangat beruntung memiliki partner yang suportif dalam hal ini. Dia rela bergadang menemani saya menyusui, menepuk punggung anak saya sesudahnya, browsing masalah menyusui, menemani mengikuti kelas laktasi, mengerjakan pekerjaan rumah dan lain-lainnya. Makasih ya, Paaart!

(4) Insecurity ASI kurang bakal terus-menerus bercokol dalam pikiran
Bayi umur segini harus menerima asupan ASI sekian mililiter, umur segitu harus segitu. Begitu yang saya temukan di artikel-artikel mengenai menyusui. Masalahnya, kita sebagai galon ASI-nya kan nggak punya ukurannya, ye? Kita nggak akan tahu sudah seberapa banyak bayi saya menyusui.

Pada akhirnya, patokannya adalah berat badan si bayi. Ketika berat badannya naik signifikan, berarti susunya cukup!
  
(5) Breastpump (dan skill memerah tangan) menentukan prestasi.
Nah sekarang kita ngomongin soal pumping, nih. Secara saya kan kerja, jadi selama saya nggak berdekatan dengan bayi, ia akan diberi ASI perah.

Saya membeli breast pump tanpa lihat review apapun. Iya, saya tahu, bloon. Tapi kebloonan sudah terjadi, mau gimana lagi. ASI yang terperah dengan breastpump butut itu sangat sedikit, sudah begitu, cara menggunakannya ribet banget. Ada yang menyarankan untuk menggunakan teknik marmet, alias menggunakan tangan. Sama aja ribetnya, pakai kocar-kacir lagi ASI-nya sampai becek. Ih.

Ini sempat bikin saya down dan kepikir untuk berhenti bekerja saja.

Iye, nggak nyambung, breastpump nggak bisa memerah dengan baik, kok solusinya berhenti bekerja.

Di tengah kegalauan, saya pun membuat survey di Facebook, tentang merk dan jenis breastpump yang oke. Hasilnya? Orang yang berbeda menyebutkan brand dan jenis yang berbeda, sehingga saya berkesimpulan breastpump itu cocok-cocokan. Akhirnya saya pun berpikir untuk menyewa berbagai brand untuk merasakan sendiri mana yang paling cocok.

Eh benar lho, ketika saya menemukan breastpump yang cocok, hasil perahan yang tadinya cuma bisa membasahi pantat botol meningkat drastis sampai 3 digit mililiter. Ehe.

Oh ya, saya menggunakan Spectra 9+

(6) Nggak semua ibu bekerja stok ASI-nya harus se-freezer enam tingkat!
Sering tuh ya kan, buibu bekerja memposting stok ASIP-nya yang memenuhi freezer 4 tingkat, supaya suplai ASI untuk anak terjamin selama mereka bekerja. Kata mereka, supaya stok sebanyak itu, harus memompa sesering mungkin bla-bla-bla.

Dari situ saya panik kan ya, memompalah saya terus menerus, karena takut stok kurang. Saya mulainya telat sih, sebulan sebelum masuk kerja kembali. Tapi lumayan, itu berhasil memenuhi freezer atas kulkas dua pintu.

Yang saya lupa adalah, saya tinggal di Bandung, jarak rumah ke kantor dekat dan jadwal kerja saya bukan yang ketat 9-5, Senin sampai Jumat. Artinya, saya nggak kejebak macet, pulang pergi kantor rumah paling hanya 15 menit, seminggu pun saya mengantor hanya beberapa jam. Jadi, dari stok ASI sebanyak itu, yang kepakai ya nggak banyak juga, anak saya tetap saja sempat saya susui sebelum dan sesudah kantor.

Akhirnya saya hanya memompa di kantor, satu kali. Dan ASI hasil perahannya untuk dikonsumsi minggu berikutnya.

(7) Pada akhirnya menyusui memang bukan sekedar memberi makan, tapi masalah bonding.
Ini baru saya rasakan ketika masa ASIX-nya selesai dan ia harus mengkonsumsi MPASI. Akibatnya, frekuensi menyusuinya berkurang kan ya? Itu asli sayanya sedih setengah mati. Berasa tidak dibutuhkan lagi sebagai ibu. *Drama*

Itu gimana kalau ntar menyapih ya? Pasti lebih drama lagi deh...

Gitu deh kurang lebih. Dan sekarang, saya tinggal meneruskan sampai anak saya dua tahun atau lebih. Niatnya sih, proses menyapihnya nggak akan saya paksa juga, menunggu ia memutuskan sendiri kapan ia merasa cukup dan mau berhenti.

Uh wow, sudah setahun saya jadi ibu!

Komentar

Beby Rischka mengatakan…
Mbak.. Aku jugak baru punya keponakan nih. Mbakku kalo nyusuin juga keknya sakiiit banget. Huhuhu. Perjuangan banget ya, jadi seorang ibu! :'D
Melissa Octoviani mengatakan…
kak, anakku sekarang 2 tahun 6 bulan dan masih nyusu hahahaha... nyapih itu kesiapan anak dan kerelaan ibu... nah, anak dan ibunya belom siap hahahaha...

waktu awal2 nyusuin juga sakit, cuma sakitnya ga seberapa dibanding waktu sakit digigit... kalo ga salah pas jayden 8-9 bulan, puting aku suka digigit, dan sakitnya tuh ampun banget deh... malah dulu ampe agak bolong gitu... sempet pengen nyerah dan beli sufor, tapi ternyata akunya ga rela hahahaha... dan akhirnya pake medela purelan juga.. ga tau bener ngefek atau cuma sugesti doang ya, yang pasti sejak itu sakitnya mulai berkurang...
okke sepatumerah mengatakan…
@Beby : sakitnya cuma maksimal sebulan kok. Hang in there, ya, bilangin ke kakaknya :)

@mel : halo jemaah purelan! Hahaha